Senin, 31 Maret 2014

TNI AU tetap patroli cari MH370 Malaysia Airlines

Personel TNI AU memantau monitor ketika melakukan proses Pencarian Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 pada foto 12 Maret 2014 (ANTARA FOTO/HO/Pelda Semadi-Dispen Mabes TNI AU/IM)

TNI AU tetap mengoperasikan pesawat-pesawat terbangnya untuk membantu pencarian MH370 Malaysia Airlines yang hilang sejak 8 Maret.

Pesawat surveillance Boeing B-737-200 dari Skuadron Udara 5 sempat dioperasikan untuk mendukung operasi SAR itu.

Pemerintah Malaysia telah menyatakan penerbangan MH370 rute Kuala Lumpur-Beijing itu berakhir di Samudera Hindia.

"Kami tetap mencari MH370 itu sebagai bentuk solidaritas kepada Malaysia. Pencarian sampai selatan Pulau Jawa, Selat Sunda, sebelah barat Pulau Sumatera, hingga mendekati Kepulauan Andaman," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Yogyakarta, Minggu

TNI AU, katanya, tidak terikat batasan waktu pencarian yang biasa ditetapkan dalam operasi SAR seperti itu.

"Pesawat-pesawat kami tetap patroli di udara, sambil mencari. Semoga kabar pasti MH370 itu segera bisa diperoleh," kata dia. 

M1A1 AIM Abrams Australian Army: Lawan Tanding Terberat MBT Leopard 2 A4 TNI AD

20110902adf8106603_027

Ikon matra darat pada akhirnya merujuk pada keunggulan ranpur lapis baja, dengan penekanan pada keterlibatan tank tempur utama, alias MBT (main battle tank). Untuk urusan update MBT, Indonesia menjadi pemain akhir, setelah Malaysia, Singapura, dan Thailand yang lebih dulu menggunakan MBT.

Diawali dengan kontroversi yang masih berlanjut sampai saat ini, Indonesia akhirnya resmi membeli ratusan unit MBT Leopard 2 dan IFV (infantry fighting vehicle) Marder 1A3 dengan kontrak senilai US$ 280 juta. Perinciannya adalah 61 unit Leopard Ri (Revolution), 42 unit Leopard 2 A4, 50 Marder 1A3, dan Leopard versi recovery, tank bridge layer, berikut tank ambulans. Kesemuanya merupakan produk bekas pakai yang sudah direkondisi agar dapat tampil pas di iklim tropis.
Lepas dari kontroversi kehadiran Leopard 2 A4 untuk TNI AD, secara update teknologi memang sudah sewajarnya korps lapis baja TNI AD mendapatkan teknologi alutsista yang sepadan dengan negara tetangga. Hadirnya Leopard 2 punya nilai strategis, selain dapat meningkatkan daya deteren, moril awak lapis baja TNI AD pun akan lebih percaya diri, setelah cukup lama dibuat inferior melihat kecanggihan tank milik Malaysia, Singapura, dan Australia.

Leopard 2 A4 TNI AD
Leopard 2 A4 TNI AD
Pelontar granat pada kubah meriam 120mm Leopard 2 A4 TNI AD
Pelontar granat pada kubah meriam 120mm Leopard 2 A4 TNI AD
Bobotnya yang mencapai 60 ton lebih terus mengundang kontroversi di Dalam Negeri, tapi "show must go on."
Bobotnya yang mencapai 60 ton lebih terus mengundang kontroversi di Dalam Negeri, tapi “show must go on.”

Nah, menunggu tuntasnya pengiriman Leopard 2 A4 dari Jerman hingga 2017. Adalah hal yang menarik untuk mengkalkukasi siapa-siapa saja yang bakal menjadi lawan tanding tank andalan TNI AD ini. Tanpa bermaksud mengompori, tapi lawan Leopard TNI AD tak sulit untuk ditebak dengan proyeksi tantangan terbesar di masa depan berasal dari negara tetangga. Meski harus diakui, karena kontur geografis Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang sifatnya kepulauan, membuat gelar operasi MBT yang bobotnya puluhan ton begitu terbatas. Konsep MBT lebih dikedepankan untuk misi bertahan, ketimbang ofensif. Tapi toh beragam skenario bisa terjadi dimasa depan, seperti gesekan soal perbatasan antara Indonesia – Malaysia menyangkut perbatasan di Kalimantan. Dengan Australia, sempat ada gesekan saat jejak pendapat lepasnya Timor Timur di tahun 1999.

Polling Indomiliter
Berangkat dari paparan diatas, Indomiliter.com menggelar polling dengan pertanyaan, “Bila Terjadi Konflik yang Melibatkan MBT, Menurut Anda Siapa Yang Bakal Jadi Lawan Terberat Leopard 2 A4 TNI AD”. Polling digelar mulai 19 Februari hingga 20 Maret 2014 dengan total 1.989 responden. Polling dilakukan dengan pola one IP one vote.
Dalam polling ini, Leopard 2 A4 TNI AD disandingkan dengan MBT milik Malaysia yakni PT-91M Pendekar, MBT milik Australian Army M1A1 AIM Abrams, dan MBT andalan Singapura Leopard 2 A4S Evo. Hasil polling boleh dibilang cukup kontroversial dan mengejutkan, pasalnya potensi duel MBT yang berasal dari Malaysia ternyata tidak terbukti dalam polling ini, justru responden punya pendapat berbeda. Berikut adalah paparannya.
12
3
M1A1 AIM Abrams (Australia)
Hingga saat ini belum terbesit skenario perjumpaan Leopard 2 A4 TNI AD dengan MBT Abrmas Australia. Tapi polling menempatkan tank buatan AS ini sebagai lawan terberat Leopard Indonesia. Dari 1.989 responden, 1.135 responden (57,06%) memilih M1A1 Abrams. Boleh jadi pilihan ini didasari hubungan yang memanas antara Indonesia – Australia, maklum saat polling dilakukan tengah hangat isu penyadapan dan imigran gelap.
M1A1 AIM Abrams Australian Army
M1A1 AIM Abrams Australian Army
M1Abrams_460x306px

Dirunut dari sejarahnya, Setelah tiga dekade, Australia lewat RAAC (Royal Australian Armoured Corps) akhirnya memulai mencari pengganti Leopard 1AS. Program penggantian MBT tidak menjadi prioritas, karena secara kontinental, Australia tentu tidak memiliki lawan yang membutuhkan keterlibatan MBT. Penugasan-penugasan militer Australia dalam misi penjaga perdamaian di Haiti, Somalia, dan Timor Timur juga tidak memunculkan kebutuhan untuk menggelar tank. Baru pada tahun 2004, Australia akhirnya mengumumkan program modernisasi yang mengerucut pada pembelian M1A1 Abrams, itupun lewat skema kredit lunak FMS (Foreign Military Sales). Jumlah yang dibeli sebanyak 59 unit dengan pengiriman pertama mulai 2007. Sebelumnya Australia telah memiliki 90 unit Leopard 1AS.

M1A1 Abrams yang dibeli berasal dari surplus stok AD AS yang belum dikonversi ke standar M1A2, dan akan diretrofit dengan kemampuan AIM (Abrams Integrated Management). Versi AIM dari M1A1 Abrams ditujukan agar tank dapat dioperasikan dengan baik pada abad 21 yang dicirikan pertempuran berbasis informasi yang terpadu. Programnya dimulai AD AS pada Desember 1996, dengan kontraktor utama GDLS (General Dynamics Land Systems) yang menerima 20,7 juta dolar untuk refurbish 45 M1A1 selama masa lima tahun. GDLS membongkar ulang seluruh M1A1 yang diikutkan dalam program di Anniston Army Depot.

Abrams milik Australia menggunakan merian kaliber 120 mm M256 yang tak lain merupakan merian Rheinmetall L44 yang dipasok Jerman ke AS. Untuk urusan amunisinya, pabrik Alliant Technisystem yang dikontrak AD AS mampu membuat berbagai macam amunisi 120 mm secara mandiri, bahkan mengembangkan munisi berbasis DU (depleted uranium) tipe M829A1 yang sebenarnya aman untk disimpan namun terus mengundang kontroversi dalam penggunaannya.

Abrams boleh dibilang sebagai MBT yang memanjakan krunya, baik dalam hal kenyamanan berkendara maupun optronik yang digunakan oleh penembak maupun komandan. Penembak memiliki gunner primary sight dengan dua day optics, satu untuk jarak jauh dengan magnifikasi 3x – 10x, sementara satu optik lainnya tanpa pembesaran untuk kewaspadaan maksimal terhadap sasaran. Kontrol kendali penembakan buatan General Dynamics Kanada dibuat sesimpel mungkin. Penembak tinggal menempatkan retikula di dalam GPS dan menembakan laser rangefinder buatan Raytheon untuk menentukan jarak.

Spesifikasi General Dynamics M1A1 AIM Abrams
Kru : 4
Bobot tempur : 63.086 kg
Panjang : 9,033 meter
Lebar : 3,657 meter
Tinggi : 2,375 meter
Kecepatan jelajah : 67,6 km/jam
Radius maks : 426 km
Sudut tanjakan : 60 derajat
Meriam : M256 kaliber 120mm dengan 40 amunisi, senapan mesin coaxial FN M240 dengan 400 peluru, dan sepucuk senapan mesin berat M2HB kaliber 12,7 dengan 900 amunisi.

Leopard 2 A4S Evo (Singapura)
Sebagai negara dengan pendapatan per kapita terbesar di kawasan Asia Tenggara, maka banyak hal yang bisa diperbuat oleh Singapura dalam membangun kekuatan militernya. Selain mempunyai frigat kelas Formidable, yang didapuk sebagai frigat stealth tercanggih di Asia Tenggara, Singapura juga cukup perkasa di segmen MBT. Dorongan akusisi MBT oleh Singapura, oleh beberapa pengamat dipicu oleh Malaysia yang sudah lebih dulu mengadopsi PT-91.

Leopard 2 A4S Evo Singapura
Leopard 2 A4S Evo Singapura

Meski mengadopsi Leopard 2A4, MBT asal Jerman yang dibeli Negeri Singapura ini sudah mendapatkan upgrade disana sini, salah satunya dengan adopsi AMAP (Advanced Modular Armour Protection), yang menjadikan proteksi lebih maksimal tapi tidak berdampak pada penambahan bobot tank, pasalnya pihak Singapura menyaratkan bobot tank tidak boleh lebih dari 60 ton. Dan, jadilah Leopard milik Singapura diberi label Leopard 2 A4 Evolution.

Dakam hal kemampuan ofensif, Leopard Singapura tidak mengutak-atik meriam L/44 120mm, pertimbangannya tentu karena soal bobot. Dengan tipikal wilayah urban, tentu tidak dibutuhkan jarak engagement yang jauh. Dengan kemampuan L/44 yang optimal pada jarak 1.500 – 2.000 meter, hal ini tentu masih lebih dari cukup untuk menangkal ancaman apapun yang mencoba mengganggu. Dari sisi kualitas SDM, Singapura secara berkala merotasi awak korps lapis bajanya ke Bergen dan Munster di Jerman untuk berlatih bersama awak tank-tank terbaik di dunia: Leopard 2 A6, M1A2 Abrams, dan Challenger 2. Dengan segala kemampuannya, Singapura telah menjelma sebagai negara dengan doktrin tempur lapis baja yang paling update dan berpengalaman di Asia Tenggara. Dari komposisi kekuatan, Singapura mulai memboyong Leopard 2A4 pada tahun 2008, pengiriman pertama yaitu 96 unit tank, disusul 36 unit tank Leopard dalam batch kedua. Dari jumlah tersebut, 30 disimpan sebagai suku cadang kanibal.

Leopard 2 A4 Ri (Revolution). Nantinya TNI AD akan menerima tank ini, lebih handal dibanding punya Singapura.
Leopard 2 A4 Ri (Revolution). Nantinya TNI AD akan menerima tank ini, lebih handal dibanding punya Singapura.
DSCN0587
Garasi Leopard 2 A4 TNI AD di YonKav 1 Kostrad
Garasi Leopard 2 A4 TNI AD di YonKav 1 Kostrad

Indonesia pun akan kedatangan versi upgrade tank ini, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman pernah menjelaskan, bahwa keunggulan Main Battle Tank (MBT) Leopard 2A4 Evolution ketimbang Leopard milik Singapura, yakni pada sistem persenjataannya. “MBT Singapura assembling sistem operasinya masih hidrolik. Kelebihan Singapura pada sensor fire control. Kami punya kelebihannya pada sistem laras senjata yang akurasinya lebih baik dengan menggandeng Rheinmetall,” ujar Budiman. Dengan segala keunggulannya, Leopard 2 A4S Evo Singapura dipilih sebagai lawan terberat kedua Leopard 2 TNI AD. Sebanyak 718 responden (36,1%) telah secara jelas memilih sosok MBT ini.

PT-91M Pendekar (Malaysia)
Berbeda dengan prediksi banyak pengamat, justru MBT Malaysia ada diurutan terakhir sebagai lawan tanding Leopard 2 TNI AD. Dari 1.989 reponden, hanya 136 reponden (6,84%) yang menganggap tank ini sebagai kekuatan yang berarti untuk Leopard Indonesia.

PT-91M
PT-91M

Ditilik dari postur kekuatan, armada MBT Malaysia terdiri dari keluarga PT-91 Twardy (Tangguh) buatan pabrikan Zaklady Mechaniczne Bumar-Labedy SA, Polandia. PT-91 dipilih setelah menjalani kompetisi ketat dengan T-84 (varian T-80UD yang diproduksi dan dimodernisasi oleh Malyshev Plant, Ukrania) yang mengikuti pengujian langsung di Malaysia. Negeri Jiran ini memilih produk Polandia ini didasari pada dual hal. Pertama, studi intenal Tentara Diraja Malaysia bahwa kelas tank yang memenuhi syarat untuk beproperasi di kontur tanah dan lingkungan semenanjung Malaya adalah yang beratnya kurang dari 50 ton. Kedua, harga produk militer yang diproduksi Polandia tak kalah dibanding hasil produksi Rusia.

Dengan alasan tersebut, akhirnya Malaysia memesan 48 PT-91M MBT, enam kendaraan recovery WZT-4, lima varian AVLB (Armoured Vehicle Launched Bridge) sebagai pembawa jembatan, dan tiga MID-M yang dilengkapi roller dan bilah dozer untuk menerobos rintangan. Seluruhnya dipesan dalam satu kontrak pada April 2013 senilai 375 juta dolar. Pada saat kontrak diajukan, Malaysia menjadi negara pertama yang menggelar MBT modern di Asia Tenggara, dan sempat menjadi pembicaraan hangat di kawasan. Pada dasarnya PT-91 merupakan varian tiruan dari peningkatan MBT T-72M1 lansiran Uni Soviet.
pt-91m_1
pt-91 2
Pasca bubarnya Uni Soviet, Polandia menawarkan produknya yang dibanderol lebih murah dan lebih fleksibel dalan integrasi subsistemnya. Pada varian PT-91M Pendekar yang dibeli Malaysia, sejumlah sistem optonik buatan Eropa Barat dibenamkan ke dalamnya, menjadikan tank ini sebagai sista gado-gado Barat dan Timur.
Polandia sendiri akhirnya memutuskan membeli 124 tank Leopard 2 pada tahun 2002, yang ditempatkan di Brigade Kavaleri ke-10, kesatuan tank terbaik di Polandia. Sementara itu, PT-91 yang tadinya merupakan kekuatan utama, justru digusur ke Brigade Kavaleri ke-15. (Indomiliter)

Spesifikasi PT-91M Pendekar
Kru : 3
Bobot tempur : 45.300 kg
Panjang : 9,67 meter
Lebar : 3,59 meter
Tinggi : 2,19 meter
Kecepatan jelajah : 60 km/jam
Radius maks : 650 km
Sudut tanjakan : 60 derajat
Kemiringan : 50 derajat
Meriam : D81T/2A46 kaliber 125mm dengan 43 amunisi, senapan mesin coaxial FN MAG (2.000 peluru), dan senapan mesin berat M2HB (200 peluru).

Sebanyak 103 Tank Leopard Disebar ke 5 Wilayah

Salah satunya ke Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung.

Tank Leopard
Tank Leopard (Antara/Prasetyo Utomo)
Pemerintah membeli 103 unit tank Leopard untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Darat di lima wilayah. Dari kebutuhan 103 garasi tank Leopard, 82 di antaranya sudah selesai dibangun di berbagai lokasi itu.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa menjelaskan, sisa tank akan diselesaikan pada 2014. Adapun peruntukan 103 tank itu untuk melengkapi alutsista di lima wilayah, yakni:

1. Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung
Untuk wilayah ini, total tank Leopard adalah 41, yaitu 13 unit Leopard 2A4 dan 28 unit Leopard 2 RI.

2. Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan
Total tank Leopard yang diserahkan ke wilayah ini 41 unit, dengan rincian:  28 unit Leopard 2A4 dan 13 unit Leopard 2 RI.

3. Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang
Total tank Leopard yang diserahkan ke wilayah ini adalah 4 unit, dengan rincian: 3 unit Leopard 2 RI dan 1 Leopard 2A4.

4. Kompi Kavaleri CAMB, Sentul
Total 13 Leopard tipe 2 RI.

5. Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja
Total 4 unit Leopard 2 RI.

Sebelumnya, kebijakan pembelian tank Leopard ini dikritik mantan Presiden BJ Habibie. Dia menilai, tank ini tidak cocok untuk medan Indonesia yang maritim dan kepulauan.
"Untuk apa impor tank Leopard? Itu kan digunakan di negara padang pasir, bukan negara maritim seperti Indonesia. Pakai dong otaknya," kritik Habibie dalam pidatonya dalam acara "Uji Publik Capres 2014: Mencari Pemimpin Muda Berkualitas" di sebuah hotel berbintang kawasan Thamrin, Jakarta, 26 Maret lalu.
 

Tank Leopard Bisa Manuver di Sungai dan Lumpur

Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank buatan Eropa itu.

Tank Leopard.
Tank Leopard. (http://www.militaryphotos.net) (http://www.militaryphotos.net)
TNI Angkatan Darat menjawab kritik yang disampaikan Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie soal pembelian tank Leopard. Salah satu kritik yang mencuat adalah tank ini sangat berat, yakni berbobot 60 ton.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa mengakui bahwa tank buatan Eropa itu berbobot 60 ton. Meski demikian, kata dia, tekanan jejak pada tanah hanya 0,8 kilogram/centimeter kubik (kg/cm2) atau 8,9 ton/m2.

"Tekanan jejak ini relatif sama dengan tank AMX-13 yang memiliki berat 14,5 ton dan Scorpion yang beratnya 8 ton," kata Andika dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews, Minggu 30 Maret 2014.

Dengan tekanan jejak 8,9 ton/m2 itu, Andika menilai, tank Leopard sangat memenuhi syarat untuk digunakan di jalan-jalan Indonesia. Lebih lanjut, dia menjelaskan, Beban Terbagi Rata (q) Leopard adalah 2,38 kNm2.
"Ini lebih lebih kecil dari jembatan kelas A dan B (q = 4.46 kNm2) di Indonesia," jelasnya. Biasanya, jembatan yang dijelaskan Andika memiliki lebar 6 m dan panjang 40 m.

"Tank Leopard mampu manuver off road, di permukaan berlumpur, di sungai dengan kedalaman kurang dari 4 meter," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank Leopard buatan Eropa itu. Pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buat TNI AD itu dinilai tidak tepat, sebab tidak cocok digunakan di wilayah Indonesia yang pulau dan perairan.
"Tank itu tentu tidak bisa lewat jembatan. Saya dengar November akan datang 120 unit Leopard. Itu nanti mau taruh di mana?" katanya, 26 Maret lalu.
 

Minggu, 30 Maret 2014

`Psywar`, TNI AD Tempatkan Helikopter Canggih Apache di Natuna


TNI Angkatan Darat membeli 8 helikopter canggih, Apache AH-64 E dari Amerika Serikat.

Untuk melengkapi kekuatannya, TNI Angkatan Darat membeli 8 helikopter canggih, Apache AH-64 E dari Amerika Serikat. Kepala Staff Angkatan Darat, Jenderal Budiman mengatakan, salah satu penempatannya adalah di Natuna.

Umumnya, penggunaan Apache sering dilakukan di lokasi darat. Lalu, apa fungsinya di Kepulauan seperti Natuna?

Menurut situs www.army-technology.com, Helikopter Apache AH-64 E menggunakan Small Tactical Terminal (STT) KOR-24 yang menghasilkan terminal radio frekuensi sangat tinggi (VHF/UHF). Selain itu dengan sensor elektro-optik dan inframerah (EO/IR) pilot Apache bisa menghadapi atau melakukan serangan terhadap kapal kecil.

"AH-64E memiliki kemampuan diagnostik mandiri,  instrumen data Link-16, dan radar  Longbow yang diperbarui," demikian tulis www.militaryaerospace.com yang dikutip Liputan6.com, Minggu (30/3/2014). Heli itu juga punya kemampuan menyerang.

Saat dihubungi, Kadispen TNI AD, Brigjen Andika Perkasa mengatakan, penempatan helikopter canggih ini fungsinya untuk menjadi deterrent effect terhadap gangguan kedaulatan NKRI. Untuk jumlah yang akan ditempatkan di Natuna ditentukan sebelum Apache tiba di tanah air.

"Kenapa Natuna? Karena lebih untuk deterrent effect atau efek penangkalan. Jadi  seperti psywar atau perang psikologis. Untuk jumlah, jadi tidak perlu dikhawatirkan mungkin 2016 baru fix-lah keputusan pimpinan di mana akan ditempatkan berapa unit yang jelas tidak mungkin ditempatkan di satu lokasi semuanya," imbuhnya.

Ditambahkan Jenderal bintang satu ini, tahun ini para penerbang TNI AD (penerbad) akan dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar mengoperasikan Apache. Ke depan, para penerbang  yang belajar di Fasilitas Boeing Mesa, Arizona Amerika Serikat ini akan menjadi instruktur di dalam negeri.

"Mereka yang dilatih sekarang akan dijadikan pelatih. Dan mereka akan melatih penerbang-penerbang muda kita berikutnya yang akan terus datang setiap tahun," tutupnya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Minggu 16 Februari 2014, Jenderal Budiman mengatakan pihaknya membeli Helikopter Apache AH-64 E baru dari Amerika Serikat. Helikopter canggih ini akan datang pada akhir tahun 2017.

"Nanti akan dibeli lagi baru yaitu helikopter jenis Apache sebanyak 8 unit yang akan datang akhir tahun 2017 dengan kemampuan bisa over dengan ketinggian tertentu dengan radar Longbow, sasaran 50 kilometer terdeteksi sekaligus mengunci 20 sasaran serta bisa langsung kena sasaran secara bersamaan hanya dengan 1 tekan tombol," ucap Budiman.

Untuk mengoperasikan 8 unit Apache, TNI AD menyiapkan 24 penerbang dan 59 teknisi. Kehadirannya diharapkan membantu menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI. 
 

18 Negara Latihan Bersama di Laut Natuna

Latihan ini untuk penangulangan bencana alam dan bakti sosial.

Menkopolhukam, Djoko Suyanto membuka latihan bersama 18 negara.
Menkopolhukam, Djoko Suyanto membuka latihan bersama 18 negara. (Dokumentasi TNI)
Sedikitnya 4.885 orang yang terdiri dari 3.000 personel TNI AL yang diperkuat TNI AD, TNI AU, dan Polri, serta 1.885 personel Angkatan Laut dari 17 negara-negara ASEAN dan negara-negara sahabat akan mengikuti latihan bersama di Batam, Anambas, dan Laut Natuna, Kepulauan Riau dalam tajuk Latihan Bersama Komodo 2014.

Selain Indonesia, 17 negara lainnya adalah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Laos, India, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Amerika Serikat, China, Rusia, dan Australia. Selain itu, tak ketinggalan pula 25 personel PBB, Uni Eropa, Belanda, Spanyol dan ASEAN sebagai observer.

Latma Komodo 2014 merupakan latihan multilateral pada  aspek nonwarfighting yaitu penanggulangan bencana alam (Disaster relief) dan bakti sosial (Humanitarian Civic action). Latihan melibatkan negara dari anggota ASEAN dan ASEAN Plus. Mereka datang dengan menghadirkan kapal-kapal perang di Batam, Anambas dan Natuna.

TNI AL mengerahkan 19 kapal perang, 6 pesawat udara yang terdiri dari dua fixed wing dan empat rotary wing, termasuk terlibat pula unsur-unsur dari Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Departemen Perhubungan (Dephub) sebanyak dua kapal, dan satu kapal dari SKK Migas.

Sedangkan dari negara lain mengerahkan 14 kapal perang, empat helikopter. Lokasi latihan  dilaksanakan di perairan yurisdiksi nasional Indonesia di Laut Natuna dan Kepulauan Anambas. Kegiatan civic mission dilaksanakan secara serentak di tujuh lokasi yang berada di wilayah kerja Lanal Ranai (Laut Natuna) dan Lanal Tarempa (Kepulauan Anambas).

Latma ini sebagai tindak lanjut dari ASEAN Agreement on Dissaster Management and Emergency Response sesuai agenda kerja sama pada  ASEAN Defence Minister’s Meeting (ADMM). Latihan ini menitikberatkan pada materi aspek nonwarfighting, yaitu mengorganisir dan kerja sama antarnegara terhadap berbagai bentuk ancaman keamanan maritim.

Fokus materi latihan meliputi, Humanitarian Assistance (HA) dan Humanitarian Civic Action (HCA), Disaster Relief (DR), menghadapi Transnational Organized Crimes (TOC), dan Peace Keeping Operation (PKO).

Latihan yang digelar dengan tema “ASEAN Navy: Cooperation For Stability” diselenggarakan bersama kegiatan Maritime Hospitality yang dikemas dalam bentuk Indonesia Maritime Festival 2014. Dengan acara antara lain kegiatan pameran maritim; meliputi transportasi maritim, pariwisata, dan ekonomi kerakyatan & kreatif, produk-produk kemaritiman.

Selain itu, kegiatan olahraga seperti triathlon, fun bike, lomba perahu naga, sepak bola gembira, dan bola basket, serta kegiatan hiburan, yakni jazz festival, konser band, kirab kota, serta lomba masak.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto secara resmi membuka pelaksanaan latihan bersama  di Ball Room, Swiss Belhotel, Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu, 29 Maret 2014 kemarin.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio, para Kasal negara-negara peserta lainnya, para Duta Besar negara-negara peserta, para Kepala Delegasi dan Atase Pertahanan negara-negara peserta, para pejabat Mabes TNI, TNI AL, TNI AU, dan Polri, para Komandan Kapal negara-negara peserta, Gubernur Kepulauan Riau H. Muhammad Sani, serta undangan lainnya.
 

Dwikora : Kisah Operasi Pendaratan Tim Marinir Di Pontian, Johor Baru



Operasi ini sebenarnya disebut Ops A, yaitu operasi intelijen yang lebih menekankan hasil pada efek politis daripada efek militer.

Misi yang diemban pasukan ini adalah untuk mendampingi gerilyawan local dalam operasi militer, memberi pelatihan pada kader kader setempat yang dapat dikumpulkan di daerah sasaran, dan setelah dianggap cukup mereka akan kembali ke pangkalan.

Dari keterangan seorang anggota Marinir yang kembali pada tahun 1967, Serma Z. Yacobus, yang dalam operasi tersebut masih berpangkat kopral, di dapat keterangan sebagai berikut :

Tim 3 dari Kompi Brahma II menggunakan kapal patroli cepat, milik Bea Cukai. Tim operasi terdiri dari 21 anggota. Rombongan dibawa menuju suatu tempat diperbatasan pada tanggal 17 Agustus 1964 sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Pelayaran memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah mendapat perintah dari masing masing komandan tim dan juga menerima perlengkapan tambahan, sekita pukul 01.30 tengah malam rombongan menerima briefing dari komandan basis II, dilanjutkan dengan embarkasi ke dalam 2 perahu motor yang telah dipersiapkan.

Sembilan orang sukarelawan lokal dari Malaysia juga ikut dalam tim dan akan bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan demikian jumlah tim menjadi 30 orang.

Dengan menggunakan formasi berbanjar, berangkatlah kedua perahu tersebut menuju sasaran. Salah satu mengalami kerusakan mesin dan akhirnya kedua tim pun menjadi satu menuju sasaran. Sekitar pukul 06.30 kedua tim sampai ke daerah sasaran tanpa diketahui oleh musuh.

Operasi bocor ... pertempuran dimulai

Ternyata daerah pendaratan merupakan daerah rawa rawa yang berlumpur. Kedua tim memutuskan untuk bertahan di situ yang jaraknya sekitar 50 meter dari pantai pendaratan.

Namun rencana penyusupan ini dikhawatirkan sudah diketahui oleh musuh, sehingga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan gerakan dahulu dan tetap berlindung di semak semak sambil menunggu hari menjadi gelap.

( Memang banyak operasi penyusupan rahasia ke wilayah Malaysia yang sengaja dibocorkan oleh oknum oknum di dalam TNI sendiri ke pihak lawan, menurut artikel tersebut ).

Pukul 19.00 tim baru dapat meninggalkan tempat persembunyian dan mencoba menyusuri medan berawa tersebut dengan susah payah dan pukul 03.00 pagi mereka beristirahat. Demi keamanan, kedua tim berpisah. Tim I dipimpin Serda Mursid sebagai komandan tim, dan tim 2 dipimpin Serda A. Siagian.

Rupanya kedudukan infiltran sudah diketahui pasukan keamanan setempat, kerana setelah 3 jam pasukan berada di situ, kedudukan mereka sudah dikepung musuh. Diperkirakan kekuatan musuh satu peleton ( 30 – 40 orang ).

Musuh melakukan tembakan pancingan untuk mengetahui posisi pasti pasukan Marinir, disusul dengan ledakan granat tangan. Maka pertempuran pun tak dapat dihindarkan lagi.

Kemampuan bertempur musuh ternyata masih di bawah kemampuan pasukan Marinir. Beberapa orang musuh tertembak mati. Di pihak tim gugur satu orang penunjuk jalan. Merasa tidak dapat mengimbangin Marinir pertempuran tersebut, makan pihak musuh mendatangkan bantuan 2 helikopter dan satu pesawat.

Namun sebelum bantuan tersebut tiba, pasukan Marinir telah bergerak meninggalkan lokasi kontak senjata dan mencari tempat yang lebih aman untuk bertahan dalam rawa rawa tersebut.

Musuh pun kemudian menggunakan anjing penjejak untuk melacak kedudukan tim Marinir. Pada tanggal 19 Agustus 1964, komandan tim memerintahkan 2 penunjuk jalan asal Malaysia untuk melakukan pengintaian dan mencari informasi dengan menyamar berpakaian seperti penduduk biasa. Namun hingga senja, keduanya belum juga kembali.

Untuk mengatasi keragu raguan, komandan tim memutuskan untuk tidak menunggu mereka lebih lama lagi. Pasukan segera bergerak meninggalkan lokasi. Senjata dan perlengkapan keduanya disembunyikan di dalam lumpur untuk menghilangkan jejak.

Dalam perjalanan, tiba tiba tim mendapat serangan mendadak dari musuh. Dengan semangat Marinir “Pantang mundur, mati sudah ukur” tim melawan musuh dengan gigih.

Beberapa musuh terluka. Hal itu didasarkan pada keterangan penduduk setempat yang sempat ditemui tim setelah selesainya pertempuran. Dipihak Marinir, satu orang penunjuk jalan asal Malaysia gugur.

Malam itu tim terpaksa beristirahat lagi sambil berlindung selama satu hari dan selanjutnya kembali bergerak, namun mereka tidak dapat menuju sasaran yang direncanakan karena sudah diketahui oleh musuh.

Hal ini diketahui dari adanya bunyi rentetan tembakan. Rupanya telah terjadi kontak senjata antara tim yang dipimpin Serda Mursid dengan pihak musuh. Tugas tim kedua adalah mengadakan pencegatan, namun karena tim tidak dibekali dengan alat komunikasi, maka tugas ini pun gagal.

Satu jam kemudian pertempuran pun reda. Tim Marinir memutuskan untuk bersembunyi di rawa tak jauh dari perkampungan penduduk. Setelah 1 jam beristiharat, gerakan diteruskan menuju kampung dan sampai di sebuah rumah dan menemui penghuninya yang mengaku bernama Hasan. Hasan ini mengaku keturunan Indonesia asal Jawa.

Di rumah tersebut tim mendapat pelayanan yang cukup baik, sehingga terjadilah percakapan yang kurang hati hati dari tim yang menyangkut penugasan tim.

Tanpa rasa curiga, Hasan pun menyatakan bersedia bekerja sama dengan tim Marinir. Bahkan Hasan pun sudah menunjuk tempat perlindungan yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya, sekitar 1 km dari perkampungan.

Pada tanggal 30 Agustus tengah hari, datanglah Hasan membawa seorang laki laki yang diakuinya sebagai pamannya ke tempat persembunyian tim, untuk menyampaikan informasi. Kemudian ia menyarankan agar tim berpindah lagi ke gubuk lain sejauh 500 meter dari persembunyian pertama. Karena sudah terlanjur percaya pada si Hasan, tim pun segera bergerak ke lokasi yang ditunjukkan.

Namun apa yang terjadi ?

Sekitar setengah jam kemudian, tim mendapat serangan mendadak sehingga tim kehilangan 2 anggota yaitu Prajurit Satu Kahar dan seorang guide asal Malaysia. Kopral Yacobus terkena tembakan di siku kanan, hingga senjatanya lepas.

Prajurit Satu Siahuri terluka parah, sedangkan Kopral Priyono berhasil menyelamatkan diri ke sungai. Di tengah tengah situasi terjebak tembakan gencar tersebut, musuh berteriak “ Surender !!! ... Surender !!!” Teriakan ini diulangi lebih keras “Kalau mau hidup, Surender cepat !!!”

Anggota tim yang pingsan dan banyak mengeluarkan darah ini tertangkap musuh. Selanjutnya mereka dirawat seperlunya oleh musuh dan diserahkan ke Balai Polis setempat.

Ternyata si Hasan ini adalah pengkhianat. Pura pura mau menolong ternyata ada udang di balik batu. Ia mengharapkan hadiah dari aparat keamanan setempat, apalagi jika dapat menangkap pasukan Marinir Indonesia. Siagian sendiri akhirnya tertawan, sedangkan 3 anggota tim lainnya berhasil kembali ke pangkalan di Indonesia dengan selamat.

Regu satu yang dipimpin Serda Mursid akhirnya sampai di Gunung Pulai. Namun karena lokasi sasaran sudah diketahui musuh sebagai daerah tujuan tim, pasukan Marinir dikepung oleh musuh yang jauh lebih kuat.

Terjadilah pertempuran sengit hingga akhirnya pasukan Serda Mursid kehabisan peluru. Mereka tetap gigih melawan hingga akhirnya 3 orang anggota pun gugur, termasuk Serda Mursid sendiri. Sisa anggota regu tertawan musuh.

Maka berakhirlah kisah heroik operasi pendaratan tim marinir di Pontian, Johor Baru, Malaysia.

Nama nama anggota Marinir yang gugur di Pontian :

Prajurit Satu Kahar ( IPAM )
Sersan Mayor Satu Mursid ( IPAM )
Sersan Satu Ponadi ( IPAM )
Sersan Satu Mohamadong ( Pasinko )
Sersan Dua Yacob ( IPAM )
Sersan Dua Tohir ( Batalyon 3 )
Kopral Syahbuddin ( Pasinko )
Kopral Dulmanan ( IPAM )

Mymil.